Hama-hama yang terdapat di lahan padi daerah subang antara lain :

Wereng coklat atau wereng punggung putih

Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) memiliki tingkat kemampuan reproduksi

yang tinggi jika keseimbangan populasinya terganggu oleh penanaman varietas peka,

perubahan iklim (curah hujan), maupun kesalahan aplikasi insektisida yang

menyebabkan resurjensi hama. Wereng coklat mampu merusak tanaman padi dalam

skala luas pada waktu yang relatif singkat. Wereng coklat dan wereng punggung putih

(Sogatella furcifera H.) seringkali menyerang tanaman secara bersamaan pada

tanaman stadia vegetatif. Varietas yang tahan wereng coklat belum tentu tahan wereng

punggung putih. Oleh karena itu, pengendalian wereng coklat harus dimulai sebelum

tanam. Pengendaliannya adalah:

• Di daerah endemis wereng coklat, pada musim hujan harus ditanam varietas

tahan wereng coklat.

• Gunakan berbagai cara pengendalian, mulai dari penyiapan lahan, tanam jajar

legowo, pengairaninttermitten, takaran pupuk sesuai BWD.

• Monitor perkembangan hama wereng punggung putih dan perimbangan populasi

wereng coklat dan musuh alami pada umur 2 minggu setelah tanam sampai 2

minggu sebelum panen. Pengambilan keputusan pengendalian wereng coklat

berdasarkan ambang kendali perlu mempertimbangkan populasi musuh alami,

dengan cara:

– Lakukan pengamatan pada 20 rumpun tanaman secara diagonal. Hitung

jumlah wereng coklat + wereng punggung putih, predator (laba-laba,

Opionea, Paedorus, dan Coccinella), dan kepik Cyrtohinus

– Penggunaan insektisida didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi dan umur

tanaman, yaitu bila: Nilai D >5 ekor pada saat tanaman berumur <40 HST,

atau >20 ekor umur 40 HST

– Insektisida yang dianjurkan adalah fipronil (untuk biotipe 1 atau 2) dan

imidakloprid (untuk biotipe 1, 2, 3, dan 4), atau insektisida rekomendasi

setempat.

– Bila populasi hama dibawah ambang ekonomi, gunakan insektisida botani

atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria

bassiana)

Siput murbei atau keong mas (Pomace canaliculata Lamarck)

Merupakan hama baru yang penyebarannya cukup luas. Kerusakan terjadi ketika

tanaman masih muda. Petani harus menyulam atau menanam ulang pada daerah

dengan populasi siput yang tinggi sehingga biaya produksi meningkat. Pengendaliannya

adalah:

• Mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Bila keong mas masuk ke

dalam areal sawah baru akan berkembang cepat terutama pada lahan yang

selalu tergenang dan akan sukar dikendalikan.

• Pengendalian harus berkesinambungan, walaupun tanaman sudah berumur 30

HST, pengendalian harus tetap dilakukan untuk mencegah serangan pada

pertanaman berikutnya.

• Secara mekanis dapat dilakukan dengan mengambil dan memusnahkan telur

dan keong mas baik dipesemaian atau di pertanaman secara bersama-sama,

membersihkan saluran air dari tanaman air seperti kangkung, dan

mengembalakan itik setelah panen. Untuk mengurangi kegagalan panen, harus

menyiapkan benih lebih banyak.

• Pada stadia vegetatif, dapat dilakukan: (1) pemupukan P dan K sebelum tanam;

(2) menanam bibit yang agak tua (>21 Hari) dan jumlah bibit lebih banyak; (3)

mengeringkan sawah sampai 7 HST; (4) tidak mengaplikasikan herbisida

sampai 7 HST; (5) mengambil keong mas atau telur dan memusnahkan; (6)

memasang saringan pada pemasukan air untuk menjaring siput; (7)

mengumpan dengan menggunakan daun talas atau daun pepaya; (8) Aplikasi

pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha

sebelum tanam pada caren sehingga pestisida bisa dihemat.

Comments are closed.